Suku Using, merupakan penduduk asli Banyuwangi, Jawa Timur. Panggilan “Using” ini diberikan kepada masyarakat ujung timur tanah Jawa atau Blambangan (Banyuwangi). Blambangan karena mereka cenderung menarik diri dari pergaulan dengan para masyarakat pendatang saat setelah perang Puputan Bayu.

Kisah dimulai saat datangnya para VOC di Blambangan pada tahun 1765. Mereka memperkerjakan para pekerja dari Jawa Tengah dan Madura. Namun, masyarakat Blambangan atau wong Using malah mengucilkan diri ke pegunungan dan tidak mau bergabung dengan usaha VOC ini. Saat mereka berinteraksi, para wong Using ini sering menjawab dengan “sing” atau “hing” yang berarti “tidak”. Dan inilah mengapa mereka dipanggil sebagai “wong using”.

 


Sumber : wacana.co

 

Di sisi lain, Wong Using ini menyebut para kaum pendatang dengan istilah “Wong Kulonan”. Selain itu, mereka pun juga menggunakan istilah-istilah kasar untuk melabeli para pendatang ini sebagai “sandi” bahwa mereka sangat menolak segala bentuk penjajahan.

Lalu, penduduk sisa-sisa rakyat Blambangan ini mendiami wilayah Kabupaten Banyuwangi. Banyak orang menyebutnya dengan “Using”, “Oseng” ataupun “Osing”. Namun, sebuah kesepakatan resmi pun tercapai dengan uraian secara Linguistik dan “Using” pun terpilih.

Semangat heroik para tentara Blambangan ini membuat Perang “Puputan” menjadi tonggak hari lahirnya Kabupaten Banyuwangi. Walaupun kalah, sisa rakyat Blambangan yang tak mudah menyerah ini mengungsi ke gunung dan membentuk kelompok-kelompok kecil. Mereka berkomunikasi menggunakan bahasa-bahasa sandi yang kini menjadi umpatan khas wong Using. Bahasa Using memiliki ratusan dialek. Di setiap daerah di Blambangan memiliki dialek masing-masing. Bahasa Using ini jauh berbeda dengan bahasa Jawa Timur dan Jawa Tengah.

 


Sumber : pariwisatabanyuwangi.com

 

Yang paling unik dari suku Using adalah kampung-kampung Using tidak pernah menghadap ke jalan raya. Masih dihantui dengan ketakutan paska kekalahan dengan orang asing saat Perang Puputan Bayu, kampung-kampung di Blambangan biasanya merupakan jalan kecil dengan jalan raya beraspal. Meski dalam pedesaan, kampung-kampung ini padat sekali.

Salah satu desa di Banyuwangi, yakni Desa Kemiren, sangat menjaga batik. Masyarakat Using disini menyimpan kain batik dengan cara memasukkannya ke dalam stoples untuk melindungi batik dari gangguan luar. Gangguan luar ini seperti suhu, udara, dan sebagainya yang akan merusak batik tersebut.

Di Kemiren, setiap keluarga wajib memiliki batik. Bahkan, batik ini pun menjadi persyaratan lamaran yang harus diberikan laki-laki kepada mempelai calon istrinya. Nantinya, batik ini akan dipakai oleh sang mempelai wanita saat bersanding di pelaminan.

Selain itu, saat hari raya, biasanya para masyarakat Using akan menunjukkan batik dalam stoples ini sebagai bentuk apresiasi kepada para leluhur. Mereka percaya bahwa saat mereka menunjukkan batik ini, leluhurnya pun datang.

Kini, terdapat setidaknya duapuluh dua motif batik yang tercatat dan tersimpan di Museum Budaya Banyuwangi. Motif-motif tersebut seperti Kangkung Setingkes, Gedekan, Gajah Oling, dan sebagainya. Motif-motif ini pun sering menjadi tema besar acara fashion paling bergengsi di Banyuwangi, Banyuwangi Batik Festival.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *