Walaupun modernisasi tengah berkembang pesat, suku Using di Banyuwangi tetaplah mempertahankan budaya tradisionalnya. Selain Banyuwangi Batik Festival, Desa Adat Kemiren ini memberikan rasa tradisional dalam desa ini. Terutama suku Using yang tinggal di Desa Adat Kemiren. Sejak 1995, mantan Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman telah menetapkan desa ini menjadi desa adat wisata suku Using.

Namun, apakah Anda tahu tradisi apa saja yang biasa dilakukan para Suku Using? Berikut adalah tradisi Suku Using yang harus Anda ketahui.

  1. Tradisi Gedhogan


Sumber : wacana.co

Saat para turis berkunjung ke Desa Adat Kemiren, mereka akan langsung disambut dengan sekelompok ibu-ibu menumbuk hasil bumi, seperti beras dan tepung. Irama yang dimainkan pun harmonis sekali. Meski sudah jarang digunakan, namun tradisi ini dilestarikan dan menjadi tontonan untuk para turis. Sounds interesting?

  1. Barong Ider Bumi

Setiap tanggal dua bulan Syawal, terdapat tradisi yang disebut “barong ider bumi”. Dalam tradisi ini, para warga Using akan membentuk kelompok “barongan” yang mengitari desa dari ujung timur hingga ke barat, diiringi arak-arakan barong.

Ditengah-tengah karnaval ini, masyarakan akan melempari mereka dengan uang logam untuk menolak bala yang datang ke wilayah ini. Dulunya, desa ini pernah dilanda kemarau panjang. Maka dari itu, tradisi ini perlu dilakukan agar musim kemarau cepat pergi dan sawah pun mendapatkan air yang cukup.

  1. Tradisi Bersih Desa


Sumber : nu.or.id

Setelah para masyarakat Using berhasil memanen hasil taninya, mereka akan melaksanakan tradisi bersih desa. Tradisi desa ini biasanya dilaksanakan pada hari Raya Idul Adha. Dalam tradisi ini, warga akan menyuguhkan makanan khas Banyuwangi, pecel pitik. Pecel pitik ini berisi suwiran daging ayam yang dicampur dengan parutan bumbu kelapa pedas yang sudah digoreng. Sounds good, isn’t it?

  1. Ritual Jemur Kasur

Dalam tradisi bersih desa, warga Using juga memiliki tradisi unik. Tradisi unik ini adalah di pagi hari, kasur berwarna merah-hitam akan ramai-ramai ditaruh di luar dan dijemur. Kasur merah ini melambangkan simbol ibu, dan hitam adalah simbol kekekalan. Jadi, kasur ini melambangkan kasih ibu yang tak akan pernah putus pada anak-anaknya.

Kasur-kasur ini nantinya akan diberikan para anak perempuan yang telah menikah dari orangtua mereka. Harapannya, para perempuan ini akan memberikan kasih sayang tak terhingga kepada anaknya.

  1. Suka kopi?

Kalau Anda suka meminum kopi, Desa Adat Kemiren bisa jadi pilihan yang tepat. Terdapat tradisi minum kopi 10,000 cangkir di desa ini, loh! Wah! Kopi khas suku Using ini dinamai jaran goyang dan dalam tradisi ini biasanya akan diminum. Tradisi ini ditujukan untuk mempererat rasa persaudaraan.

 

Dari kelima tradisi ini, mana yang sangat menarik bagi Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *